bukan blog cinta, hanya menceritakan sedikit tentang cinta...
Background Illustrations provided by: http://edison.rutgers.edu/
  • staff gudang :

    Barney buat anak kecil gini aja mahal...

  • gue:

    yah namanya juga ori pak

  • staff gudang :

    seumur-umur kerja di sini ya, saya itu ga pernah beli yang ori

  • gue :

    nah, mungkin itu tuh yang bikin gaji bapak ga naik-naik.

  • staff gudang :

    sekarang pilih deh. beli Twilight di abang-abang pinggir jalan 8ribu, apa beli di kantor yang walau dapet potongan tetep saja 50ribu??

  • gue :

    kalau saya pilih download saja pak... hehe

  • staff gudang :

    sama saja -_______-

  • dan... hari iini nonton bareng si kebo Twilight Breaking Dawn part 1, 2 hasil downloadtan si kebo juga XD

Jawir

"Laraning lara.. ora kaya wong kang nandhang wuyung.
Mangan ra doyan, ra jenak dolan, ning omah bingung..”

Buat yang belum tau, mungkin lagu ini terkesan Jawa banget atau lebih parahnya kalau ada yang phobia lagu Jawa -sebutannya apa ya?- bisa ketakutan.
Oke, aku translate ke Inggris yah biar ngena.. XD

"It’s getting hurt.. It doesn’t seem like someone who falling in love.
Don’t wanna eat, don’t wanna hanging out, pathethic in my room..”
Ini tentang lagu seseorang yang sedang jatuh cinta.
Tapi kya yang aku bilang tadi, buat sebagian yang ga tau artinya, bisa jadi tembang ini tuh seremmm..
Jadi ceritanya temen kosan aku curhat, beberapa malam ini dia sering denger suara cewe nyindhen, nembang lagu Jawa dan yah.. pikirannya jadi yang engga-engga dan berujung merinding.
Aku ketawain.. Lha wong yang dia maksud siapa si cewe yang nembang itu ya yang lagi dengerin curhatnya. Kenapa dia dengernya baru-baru ini, ya karena aku penduduk baru di kosan ini.
Sempet nakut-nakutin juga, tapi ya kasihan curhatnya begitu… Terus ngaku deh. Hahahahaha…
Seneng nembang Jawa atau istilahnya nyindhen yah.. Ah, aku jauh dari kategori sindhen pasti. Tapi ada juga lho yang seneng dengerin aku nembang bahkan sampai merinding. Hahaha.. *Puasss
Awal seneng nyanyi Jawa itu.. Ya karena aku orang Jawa. Eh, tapi banyak lho orang Jawa yang sudah lupa sama keJawaannya. Kalau bapak bilang, “Wong Jowo ilang Jowone”. Oh iya, ini bukan pertama kalinya aku di Jakarta. Sedikit cerita, jadi begitu lahir di Semarang langsung dibawa “kabur” ibu ke sini, Jakarta. Sampai lumayan gedean sedikit terus bisa mikir sedikit.. Aku pilih balik Semarang :D
Hal yang bikin aku ga sreg sama pikiran orang sini, tiap ditanya mudik apa ga ke Jawa.. Lhah, bukannya Jakarta pulau Jawa juga to? Cuma masalah penempatan ibukota. Kya gini yang aku maksud wong Jowo ilang Jowone. Bahkan ga sedikit yang mengunderestimate kota di luar Jakarta itu kampung. Lha malah justru pemikiran yang kya gitu yang kampungan.. :)

Well, back to the song ah..
Mungkin bisa nembang itu karena gen kali yah. Bukan bakat. Haha.. Bapak seniman karawitan di Semarang, dan embah penganut kejawen. Klop deh. Yah, walau ga termasuk dalam kepercayaan yang ada di peraturan perundang-undangan, tapi aku tetep pegang dasarnya ko. Pancasila. Tuhan itu maha esa. Satu. Walau toh jadi bermavam-macam pandangan, tapi pada akhirnya tujuan sama. Mengajarkan kebaikan. Oh iya, jadi inget update status fb Augustinus Indra.
“Seorang theis beramal untuk pahala. Seorang atheis ga kenal konsep pahala atau surga atau neraka, beramal untuk rasa kemanusiaannya. Sekarang siapa yang lebih munafik kalau gitu?”
See? Yang penting saling menghargai dan ga ganggu satu sama lain. That’s all.

Aduh, pembicaraan melenceng lagi.. Maklum hape baru, jadi pengen ngetik mulu, touchscreen ngetik juga kan yah? *pamer XD
Jadi mungkin dari bapak, tiap bapak ada acara karawitan di TVRI, atau walikota, atau keluar kota, atau bahkan sekedar latihan di sanggar milik Pemkot Jateng.. Pasti ada aku..
Sampai pada akhirnya nyoba ikutin ibu sindhen nembang yang sama bagusnya sama ibu Waldjinah.. Terus pada denger deh. Mulai dari situ diajak latihan.
Uiyya, aku sudah ada fans tetap lho. Namanya…… Augustinus Indra. Hahahahahaha… Dia paling seneng kalau aku nyanyi gini nih..

"Mung kudu weruh woting ati, Duh Kusuma Bagus.."
Atau gini..
“Upama sliramu sekar melati, aku kumbang nyidham sari.
Upama sliramu margi, wong bagus. Aku kang bakal ngliwati”

Sumpah seneng banget dia. Keliatan ngarepnya pengen dipuji wong bagussss… XD
Hmm ga cuma nembang sih, seneng nari Jawa juga.. Kurang jawir apa coba??
Ya mungkin kalau diliat dari cassing sama logat ga begitu keliatan Jawirnya. But trust me, i’m trully Jawir.
Dan di sini aku ngomong Jawa sama orang-orang tertentu saja. Sama masnya tersayang sama keluarganya pasti, temen yang udah deket padahal baru setahun kenal. Intinya kalau sudah cocok ya sudah, Jawane metu :)
Karena aku sendiri bangga menjadi pewaris budaya Jawa, jadi berbanggalah kalian yang kuajakin ngomong Jawa *apacoba*..

Ahh, kembali ke laptop !
Jadi perpaduan antara bapak dan embah menurun ke aku. Dulu tiap nginep di tempat embah di Solo, tengah malem pasti embah nembang. Judulnya Ana Kidung, itu tembang Dhandanggula yang nyipatin Sunan Kalijaga buat penolak balak. Tapi yang dulu masih kecil belum tau, punya pikiran paling itu salah satu ritual embah yang ternyata jauh kalau dibilang sesat. Kalau denger pasti serem.. Tapi dari kecil memang nyaman, serinh denger, dan… Hafal.
Begini liriknya..

Ana kidung rumeksa ing wengi,
Teguh ayu luputa ing lara,
Luputa bilahi kabeh
Jon setan datan purun,
Paneluhan tan ana wani miwah panggawe ala, gunane wong luput,
Geni anemahan tirta, maling adoh tan ana ngarah ing kami, guna
duduk pan sirna.
Sakehin lara pan samja bali,
Sakehing ama sami miruda, welas asih pandulune,
Sakehing bradja luput, kadi kapuk tibanireki,
Sakehing wisa tawa, sato kuda tutut,
Kayu aeng lemah sangar songing landak,
Guwaning mong lemah miring, mjang pakiponing merak.

Lain pula halnya dengan nasib tembang Durma.. Buat yang pernah nonton film Kuntilanak yang dibintangi oleh mbak Julie Estelle. Itu bukan sejenis mantra buat memanggil setan atau sejenisnya. Itu juga salah satu tembang penolak balak..
Sayangnya tiap pertengahan aku nyanyiin tembang tersebut buat pembuktian, selalu dicut sama temen. Pada ga tahan aku nembang itu dan kya ada yang ngelihatin katanya -_________-
Ini salah satu peninggalan kebudayaan yang di salah gunakan buat meraih satu keuntungan, dan merek berhasil. Ga cuma rating filmnya yang berhasil naik, tapi juga persepsi masyarakat tentang lagu Jawa jadi horror urban legend pun berhasil.
Siapa yang salah? Akhirnya kembali ke masing-masing orang yah. Anggep kebudayaan kya gimana, terus angkat citra kebudayaan juga gimana bagusnya. Karen ya sayang-sayang…
Yang terakhir saja, dimanapun kamu berada hargai tempatmu berasal..

Oke, aku pikir cukup coretan insom tengah malam ini.. Yang agak narcism dan sedikit lebay. Hihi..
Suwun.

Aku ada cerita yang hampir saja terlupa..

Saat gadis itu berumur 5 tahun.. Ia merajuk sepanjang hari pada sang ayah. Ia menginginkan kembang gula yang sama persis dengan yang dibeli Hannah, teman sekolahnya. Sementara sang ayah tahu di mana ia dapat menemukan kembang gula itu, hanya ada di malam hari saat itu, pasar malam.
Tak tahan dengan wajah gelisah keluh kesah anak gadisnya, ia berlari memacu vespa tua yang padahal hari belum juga senja. Ia menanti malam di pasar malam itu dengan masih ditemani berbatang cigarette kreteknya, membayangkan anak gadisnya nanti menyambut datangnya dengan senyum yang lebih indah dari senja. Dan ketika pembuat kembang gula tiba, maka ia telah berada di urutan pertama dari pengagumnya yang sebagian masih seumuran anak gadisnya. Ia membeli tiga..
Dengan segera ia pacu vespa sekencangnya yang padahal tetap tersalip oleh yang lain, yang lebih. Tak sabar dengan mata binar, tak sabar ia buka pintu kamar.. Dan mendapati anak gadisnya telah terlelap dengan mimbawa mimpi kembang gula..

Ah, lelaki di sebelahnya kini yang membuatnya ingat akan cerita itu. Begitu gadis yang mulai beranjak dewasa itu merajuk padanya. Ya, begitu sama cara lelaki itu dan sang ayah redamkan keluh kesahnya. Kali ini tentu bukan kembang gula yang ia minta…



:)

Aku ada cerita yang hampir saja terlupa..

Saat gadis itu berumur 5 tahun.. Ia merajuk sepanjang hari pada sang ayah. Ia menginginkan kembang gula yang sama persis dengan yang dibeli Hannah, teman sekolahnya. Sementara sang ayah tahu di mana ia dapat menemukan kembang gula itu, hanya ada di malam hari saat itu, pasar malam.
Tak tahan dengan wajah gelisah keluh kesah anak gadisnya, ia berlari memacu vespa tua yang padahal hari belum juga senja. Ia menanti malam di pasar malam itu dengan masih ditemani berbatang cigarette kreteknya, membayangkan anak gadisnya nanti menyambut datangnya dengan senyum yang lebih indah dari senja. Dan ketika pembuat kembang gula tiba, maka ia telah berada di urutan pertama dari pengagumnya yang sebagian masih seumuran anak gadisnya. Ia membeli tiga..
Dengan segera ia pacu vespa sekencangnya yang padahal tetap tersalip oleh yang lain, yang lebih. Tak sabar dengan mata binar, tak sabar ia buka pintu kamar.. Dan mendapati anak gadisnya telah terlelap dengan mimbawa mimpi kembang gula..

Ah, lelaki di sebelahnya kini yang membuatnya ingat akan cerita itu. Begitu gadis yang mulai beranjak dewasa itu merajuk padanya. Ya, begitu sama cara lelaki itu dan sang ayah redamkan keluh kesahnya. Kali ini tentu bukan kembang gula yang ia minta…

:)